Toko Buku Agama Islam Online
(0274) 897664 sms 081328808279 081328808279 gemailmujogja@gmail.com

( pcs)
GambarBarangjmlBeratTotal
keranjang belanja anda kosong
00,00Rp 0
Dapatkan kalender 2018 gratis di sini, silahkan hubungi CS untuk info selengkapnya. Barakallahufik.

Tuntunan dan Nasehat Bagi Orang Yang Sakit

Sunday, September 11th 2016.

Tuntunan dan nasehat bagi Orang yang sakit wajib untuk senantiasa merasa ridha dan menerima segala ketentuan maupun ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala Ia juga wajib untuk bersabar atas takdir-Nya Serta berbaik sangka kepada Rabb-nya. Hal ini lebih baik baginya.

Ya, sebuah kebaikan baginya. Bukankah Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah bersabda,

“Sungguh menakjubkan dan mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya segala urusannya merupakan kebaikan baginya. Tidaklah yang demikian didapati pada seorangpun melainkan pada seorang mukmin saja. Yaitu, jika seorang mukmin mendapatkan kebahagiaan maka ia bersyukur yang demikian merupakan kebaikan baginya. Bila ia dirundung sebuah kesengsaraan dia akan bersabar tentu yang demikian juga kebaikan baginya. ” HR. Muslim (4/2999), dari shahabat Shuhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu

Juga berdasarkan sabda beliau: “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian meninggal dunia melainkan ia berbaik sangka kepada Allah. ” HR. Muslim (4/2877 ), dari shahabat Jabir radhiyallahu’anhu

Orang yang sakit hendaknya berada di antara khauf (perasaan takut) dan raja’ (rasa harap). Hendaknya ia merasa takut terhadap siksa dan hukuman Allah subhanahu wa ta’ala atas berbagai dosanya dan ia berharap akan rahmat dan kasih sayang Rabb-nya.

Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu’anhu yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya. Dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi shalallahu’alaihi wa sallam menemui seorang pemuda yang sedang sekarat.

“Bagaimana keadaan dirimu?” Tanya Nabi shalallahu’alaihi wa sallam

“Demi Allah, wahai Rasulullah, sungguh aku berharap kepada Allah (rahmat dan ampunan-Nya) dan sungguh pula aku takut akan dosa-dosaku.” Jawab pemuda tersebut.

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam kemudian bersabda: “Tidaklah dua perasaan tersebut (rasa hurap dan takut) berkumpul pada diri seorang hamba pada saat seperti ini melainkan Allah subhanahu wa ta’ala akan memberi apa yang dia harap dan akan memberi keamanan dari yang ditakutinya. ” HR. at-Tirmidzi (3/983), Ibnu Majah (2/4261), dari shahabat Anas bin Malik & dihasankan oleh Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, lihat al-Misykah.

Tidak boleh berangan-angan untuk mati

Seberat dan separah apapun penyakit yang dideritanya, kalaupun terpaksa melakukannya maka hendaknya ia mengucapkan,

“Ya Allah, hidupkanlah diriku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan matikanlah diriku jika kematian itu lebih baik bagiku.” HR. al-Bukhari (5671 dan 6351) dan Muslim (2680) dari shahabat Anas Malik

Jika ia masih memiliki tanggungan-tanggungan dan kewajiban maka hendaknya ia menunaikannya kepada pemiliknya dan kepada yang berhak. Tentunya jika hal ini mudah dan mampu ia lakukan. jika tidak demikian maka hendaknya ia berwasiat kepada keluarganya.

Hal ini berdasarkan perintah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam wasiat tersebut pun harus segera disampaikan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam,

“Tidak pantas bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan sampai berlalu dua malam melainklan wasiat tersebut sudah tertulis disisinya.” Ibnu ‘Umar berkata, “Tidaklah berlalu satu malam sejak aku mendengar Rasulullah mengatakan ucapan itu melainkan wasiatku telah aku tulis.” HR. Al Bukhari (4/2738) dan Muslim (3/1627), dari shahabat lbnu Umar.

Wajib baginya untuk memberikan wasiat kepada kerabat yang bukan ahli warisnya.

Hal ini berdasarkan firman Allah yang artinya: “diwajibkan atas kalian, apabila seorang di antara kalian kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan kaarib kerabatnya secara ma’ruf (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”(al-Baqarah: 180)

Boleh baginya untuk berwasiat dengan sepertiga hartanya dan tidak lebih dari itu. Bahkan yang lebih utama dan lebih afdhal agar wasiat tersebut kurang dari sepertiga. Hal ini berdasarkan hadits Sa’d bin Abi Waqqash radhyallahu’anhu yang disebutkan dalam ash-Shahihain. Ia mengatakan, “Suatu ketika aku bersama Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dalam haji Wada. Aku pun jatuh sakit yang mendekati kematian. Beliau pun kemudian menjengukku.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini memiliki harta yang sangat banyak. Akan tetapi tidak ada yang mewarisiku kecuali satu orang anak perempuanku saja. Apakah boleh bagiku untuk berwasiat dengan dua pertiga hartaku?” Tanyaku kepada beliau Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam menjawab, “Tidak.” “Dengan separuh hartaku?” “Tidak.” “Kalau begitu dengan sepertiga dari hartaku?” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Ya, sepertiga. sepertiga itu pun sudah banyak.” Jawab beliau: Kemudian beliau menambahkan, “Sesungguhnya engkau, wahai Sa’d, meninggalkan ahli ‘warismu dalam keadaan kecukupan itu lebih baik bagimu dari pada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta kepada orang dengan tangannya. Wahai Sa’d, tidaklah engkau menginfakkan satu nafkah dalam rangka mencari wajah Allah melainkan engkau akan mendapatkan pahala. Bahkan sampai-sampai suapan yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu. ” Sa’d berkata, “Maka setelah itu sepertiga boleh. HR. Ahmad (1 524)

Juga berdasarkan ucapan Ibnu Abbas ‘Aku sangat senang apabila orang-orang menurunkan wasiat mereka dari sepertiga menjadi seperempat, sebab Nabi shalallahu’alaihi wa sallam telah bersabda,

“Sepertiga itu sudah banyak.”

Hendaknya ketika berwasiat disaksikan oleh dua orang muslim laki-laki yang adil. Kalau tidak didapatkan dua orang muslim yang jujur maka bisa dengan dua orang yang jujur dari kalangan non muslim dan diminta agar keduanya bersumpah untuk bisa dipercaya apabila persaksian keduanya diragukan.

Hal ini sesuai dengan keterangan di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang di antara kalian menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kalian, atau dua orang yang berlainan agama dengan kalian, jika kalian dalam perjalanan di muka bumi lalu kalian ditimpa bahaya kematian. Kalian tahan kedua saksi itu sesudah shalat (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kalian ragu-ragu, “(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak pula) kami menyembunyikan persaksian Allah. Sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa. ” Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) membuat dosa (Yaitu, jika telah diketahui secara sepakat bahwa kedua saksi yang bersumpah itu melakukan perbuatan dosa ‘berupa perbuatan dusta dan menyembunyikan persaksian atau khianat dan menyembunyikan harta peninggalan ketika keduanya diberi amanah. Maka yang wajib atau yang harus dilakukan untuk menerangkan kebenaran adalah dengan dikembalikannya sumpah tersebut kepada ahli waris. Yaitu dengan cara kedua saksi tersebut digantikan oleh dua orang dari wali si mayit yang mewarisinya karena adanya dosa pada dua saksi pertama tadi dengan berbuat kezaliman terhadap ahli waris dan tidak amanah (berkhianat) kepada mereka. Demikian penjelasan yang disebutkan di dalam kitab tafsir al-Manar. Silakan merujuk pembahasan dan penjelasan tuntasnya pada kitab tersebut (7/222)), maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah, “Sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima dari pada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang yang menganiaya diri sendiri itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah perintah-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. ” (al-Maidah: 106-108)

Sedangkan berwasiat untuk memberikan harta kepada orang tua atau kerabat ahli waris maka hal ini tidak diperbolehkan. Sebab, hukum ini telah dihapus dengan ayat-ayat yang menjelaskan tentang warisan.

Demikian pula telah dijelaskan dan diterangkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dengan penjelasan yang paling lengkap dan sempurna dalam sebuah khutbah pada haji Wada’. Beliau shalallahu’alaihi wa sallam menyatakan:

“Sesungguhnya Allah telah memberikfan hak kepada yang berhak oleh karena itu tidak ada wasiat untuk ahli waris.” HR. Abu Dawud (2870 dan 3565) dan Ibnu Majah (27150) dari shahabat Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu’anhu , at-Tirmidzi (2121) dan an-Nasa`i (5641 dan 3643) dari shahabat Amr bin Kharijah serta Ibnu Majah (2714) dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, lihat shahihul jami’ (1788 dan 1789) dan al-Irwa’ (1413 dan 1655).

Diharamkan memberikan efek mudharat dalam wasiat tersebut. Misalnya, berwasiat agar sebagian ahli Waris tidak mendapatkan bagian dari hak warisnya, atau dengan melebihkan sebagian ahli waris atas yang lain dalam mendapatkan bagian warisan.

Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Bagi orang laki-laki ada hah bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian pula dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (an-Nisa`: 7)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan yang artinya:

“Sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun. ” (an-Nisa`: 12)

Juga berdasarkan sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam

“Tidak boleh menimbulkan kemudharatan dan tidak boleh membuat orang lain terkena mudharat. Barang siapa yang berbuat kemudharatan maka Allah akan menimpakan madharat kepadanya. Dan barang siapa yang membuat permusuhan maka Allah akan memusuhinya.” HR. ad-Daruquthni (522) dan al-Hakim, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu (2k57-58). Lihat al-Irwa’ (888).

Wasiat yang mengandung kejahatan

Tidak sah dan tertolak hal ini berdasarkan sabda beliau shalallahu’alaihi wa sallam:

“Barang siapa yang mengada-adakan (sesuatu yang baru) dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” HR al-Bukhari (2697) dan Muslim, dari sahabat Aisyah radhiyallahu’anha (1718)

Praktik kebid’ahan dalam masalah agama begitu merebak dan menjamur pada mayoritas orang di masa sekarang ini, terlebih pada masalah-masalah yang terkait dengan jenazah. Oleh karena itu, termasuk sebuah kewajiban dan keharusan adalah seorang muslim memberikan wasiat agar pengurusan jenazah dan prosesi pemakaman dilakukan sesuai dengan sunnah.

Hal ini sebagai bentuk aplikasi dan realisasi serta pengamalan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, Jagalah diri kalian dan keluaga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkcan.” (at-Tahrim: 6)

Oleh karena itu, para sahabat Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dahulu senantiasa memberikan wasiat tersebut. Atsar-atsar (ucapan dan keterangan) dari mereka tentang hal ini yang telah kami sebutkan sangatlah banyak. Silakan anda merujuk pada kitab asal (Ahkamul Jana`iz). Di antaranya adalah atsar dari Hudzaifah radhiyallahu’anhu dahulu beliau berwasiat,

“Jika aku mati maka janganlah kalian mengumumkannya kepada seorang pun. Karena sesungguhnya aku sangat takut lagi khawatir jika hal tersebut termasuk na’i (mengumumkan kematian yang terlarang). Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah radhiyallahu’anha melarang dari na’i” HR. at-Tirmidzi (2/129)

Oleh karena itu, di dalam kitab al-Adzkar, al-Imam an- Nawawi menyatakan,

“Disunnahkan dan dianjurkan dengan anjuran yang ditekankan agar seseorang berwasiat kepada mereka (orang-orang yang ditinggal) untuk menjauhi adat kebiasan yang berlaku yang termasuk bid’ah dalam masalah pengurusan jenazah. Bahkan hendaknya ia membuat perjanjian dan kesepakatan yang diperkuat tentang masalah ini.

Disadur dari terjemah kitab ahkamu janaiz

Tuntunan dan nasehat bagi Orang yang sakit

Produk terbaru

Rp 10.000
Order Sekarang » SMS : 081328808279
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangMajalah Tashfiyah Edisi 73 Tema Pantang Menyerah Istiqomah
Harga Rp 10.000
Lihat Detail
Rp 12.000
Order Sekarang » SMS : 081328808279
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangMajalah Qudwah edisi 54 Tema Kiamat Semakin Dekat 
Harga Rp 12.000
Lihat Detail
Rp 9.000
Order Sekarang » SMS : 081328808279
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangMajalah Azka Edisi 52 Tema Adab Bermajelis
Harga Rp 9.000
Lihat Detail
Rp (Hubungi CS)
Order Sekarang » SMS : 081328808279
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangKalender Gratis Nasional 2018 Dilengkapi Penanggalan Masehi, Hijriyah, dan Pasaran Jawa
Harga Rp (Hubungi CS)
Lihat Detail
Rp 12.000
Order Sekarang » SMS : 081328808279
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangMajalah Muslimah Qonitah Edisi 33 Tema Menangkal Petaka Media Sosial
Harga Rp 12.000
Lihat Detail
Rp 12.000
Order Sekarang » SMS : 081328808279
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangMajalah Qudwah edisi 53 Tema Mahligai Wanita Surga
Harga Rp 12.000
Lihat Detail
Rp (Hubungi CS)
Order Sekarang » SMS : 081328808279
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangMajalah Tashfiyah Edisi 72 Tema Selamat Dengan Meniti Jalan Shahabat
Harga Rp (Hubungi CS)
Lihat Detail
Rp 9.000
Order Sekarang » SMS : 081328808279
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangMajalah Azka Edisi 51 Tema Memenuhi Undangan
Harga Rp 9.000
Lihat Detail

ALAMAT KAMI

Perum KCVRI No.100, Kencuran, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581.
  • Telp. : (0274) 897664
  • Khusus WA : 0813-2880-8279
  • Khusus SMS : 0853-2769-6767
 

Rekening Bank

037-264-751-3 an. Cahyo WidiWicaksono
137-000-584-773-2 an. Cahyo WidiWicaksono
3885304-7 n. Cahyo WidiWicaksono
3068-01-016293-53-3 an. Cahyo WidiWicaksono

Pengiriman

(0274) 897664
081328808279
081328808279
gemailmujogja@gmail.com